Minggu, 01 November 2009

Proposal KTI Desa Siaga

BAB I
PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang
Visi Departemen Kesehatan dalam rangka mencapai misi Indonesia Sehat 2010 adalah “Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat” dengan Misi “Membuat Masyarakat Sehat”, yang akan dicapai melalui 4 strategi yaitu, menggerakkan dan memberdayakan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan berkualitas, meningkatkan sistem surveilans, monitoring dan informasi kesehatan serta meningkatkan pembiayaan kesehatan.“Desa Siaga merupakan salah satu sasaran dari tiga sasaran strategi pertama, dimana pada akhir tahun 2008, seluruh desa telah menjadi Desa Siaga. (Depkes RI, 2006:5). Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawat-daruratan kesehatan secara mandiri. Sebuah Desa dikatakan menjadi desa Siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). (Depkes RI, 2006 : 5).
Program Desa Siaga dikembangkan dari program kesehatan Ibu hamil dan bayi (Maternal and Neonatal Health Program/MNH) yang didukung oleh USAID dan dilakukan di kabupaten Kuningan, Kabupaten Cirebon dan kota Cirebon tahun 2002-2003. Program ini berupaya untuk menyelaraskan tanggung jawab negara dengan partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan. Salah satu tujuan utama program ini adalah menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir. Angka kematian ibu 307/100.000 kelahiran hidup, masih terlalu jauh dari target tahun 2010 sebesar 125/100.000 kelahiran hidup (kh). Sementara angka kematian balita 46/1.000 kh dari target 30/1.000 kh tahun 2010 (Depkes, 2002). Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia adalah yang tertinggi. Di Jawa Timur, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Kematian Ibu (AKI) menurun dari 334 tiap 100.000 kelahiran hidup tahun 1997, menjadi 262 setiap 100.000 tahun 2005. Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 44,64 tiap 1.000 kelahiran hidup tahun 2002-2003, menjadi 35,32 tiap 1.000 pada tahun 2005-2006. Penurunan angka ini, seharusnya tidak lantas membuat Pemerintah bangga diri. Karena, AKI dan AKB saat ini masih tergolong tinggi. Upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia khususnya Jatim belum maksimal, karena masih terlalu tinggi, setidaknya AKI yang normal 70 tiap 100.000 melahirkan hidup dan AKB 10 tiap 1.000. Menurut hasil penelitian Sugiharti dan Lilik tentang Studi Angka Kematian Bayi Di Jawa Timur tahun 2005, menunjukkan bahwa Angka Kematian Bayi yang tertinggi terdapat di Kabupaten Sampang sebesar 37,16. Urutan kedua adalah Kabupaten Pamekasan sebesar 24,63. (www.dinkesjatim.go.id). Sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Sopa’ah Angka Kematian Bayi selama tahun 2007 diketemukan 1 bayi meninggal. (Data Laporan Triwulanan KIA Puskesmas Sopa’ah 2007).
Salah satu indikator keberhasilan pengembangan Desa Siaga adalah berfungsi atau tidaknya sistem surveilans berbasis masyarakat, yang didalamnya terdiri dari surveilans penyakit, surveilans gizi, dan surveilans lingkungan dan perilaku (www.dinkesjatim.go.id). Diantara tenaga kesehatan yang ada saat ini, yang memiliki kompetensi untuk melaksanakan sistem surveilans berbasis masyarakat tersebut adalah tenaga bidan, perawat, tenaga gizi dan tenaga sanitarian (www.bppsdmk.depkes.co.id). Dalam pelaksanaan Desa Siaga di kabupaten Pamekasan diantaranya Kecamatan Pademawu Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah terdiri dari dua belas Desa Siaga, dimana delapan desa siaga dibentuk pada bulan April 2007. Adapun desa yang dibentuk pada bulan tersebut antara lain, Desa Jarin, Desa Sumedangan, Desa Pagagan, Desa Tanjung, Desa Beddurih, Desa Sopa’ah, Desa Majungan, Desa Prekbun, sedangkan empat desa lainnya terbentuk pada bulan Juli 2007, adapun Desa tersebut antara lain, Desa Pademawu Timur, Desa Durbuk, Desa Padelegan dan Desa Buddih.
Keberhasilan pelaksanaan Desa Siaga dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal dipengaruhi oleh dukungan tokoh masyarakat, dukungan kader, geografis, sosial budaya, sarana dan prasarana. Faktor internal dipengaruhi oleh pengalaman, motivasi, keterampilan dan dukungan dari tenaga kesehatan. Kurang optimalnya pelaksanaan desa Siaga akan berdampak pada kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan bayi, bila tidak segera ditangani oleh tenaga kesehatan akan menyebabkan meningkatnya angka kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan Desa Siaga salah satu diantaranya yaitu diperlukan keikutsertaan masyarakat, baik secara kualitas maupun kuantitas. Keikutsertaan masyarakat dipengaruhi oleh sikap masyarakat yang berbeda-beda, yaitu sikap yang tidak mendukung dan sikap yang mendukung. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk menghapus sikap yang tidak mendukung pada masyarakat dalam pelaksanaan desa Siaga antara lain: melakukan musyawarah, seminar, lokakarya dan pelatihan-pelatihan pada masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan apa itu desa Siaga sehingga sikap masyarakat yang tidak mendukung berubah menjadi mendukung terhadap pelaksanaan desa Siaga. Jika masyarakat sudah mendukung dengan pelaksanaan desa Siaga maka pelaksanaan desa Siaga akan berjalan secara optimal.
Berdasarkan kondisi di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah sikap masyarakat yang tidak mendukung terhadap pelaksanaan desa Siaga. Dari permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk meneliti Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk Kabupaten Pamekasan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pernyataan masalah di atas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana gambaran sikap Warga terhadap Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan?
1.2.2 Bagaimana gambaran sikap Tokoh Agama terhadap Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan?
1.2.3 Bagaimana gambaran sikap Perangkat Desa terhadap Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan?
1.2.4 Bagaimana gambaran pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan?
1.2.5 Apakah ada perbedaan sikap Warga, Tokoh Agama dan Perangkat Desa terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui perbedaan sikap masyarakat terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan.
1.3.2 Tujuan khusus
1) Mengidentifikasi gambaran sikap Warga terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan
2) Mengidentifikasi gambaran sikap Tokoh Agama terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumendangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan
3) Mengidentifikasi gambaran sikap Perangkat Desa terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumendangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan
4) Mengidentifikasi gambaran pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumendangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan
5) Menganalisis perbedaan sikap Warga, Tokoh Agama dan Perangkat Desa terhadap Pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kabupaten Pamekasan

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan dapat dijadikan pengalaman berharga dalam membuat penelitian khususnya tentang pengaruh sikap masyarakat terhadap pelaksanaan Desa Siaga.
1.4.2 Bagi Institusi
Sebagai masukan bagi Institusi pendidikan sehingga hasil penelitian ini dapat dikembangkan atau dijadikan acuan bahan penelitian selanjutnya.
1.4.3 Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian ini menjadi masukan bagi tempat pelayanan dan tenaga kesehatan untuk memasyarakatkan pelaksanaan desa Siaga sehingga Desa Siaga terlaksana secara optimal
1.4.4 Bagi Dunia Keperawatan
Penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan dan pengembangan ilmu keperawatan di masa yang akan datang.




BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan di bahas tentang konsep dasar teori dan kerangka konseptual. Pertama akan di bahas tentang konsep dasar sikap, pengertian sikap, tingkatan sikap, pambentukan sikap, struktur sikap, karakteristik sikap, ciri–ciri sikap, fungsi sikap, persuasi dan pengubahan sikap manusia, pengukuran sikap. Kedua akan di bahas konsep dasar masyarakat yang meliputi pengertian, ciri-ciri masyarakat, tipe-tipe masyarakat, ciri-ciri masyarakat Indonesia, ciri-ciri masyarakat sehat, indikator ciri masyarakat sehat, masalah-masalah kesehatan dalam masyarakat Indonesia. Ketiga tentang Desa siaga yang meliputi pengertian, tujuan Desa siaga, sasaran Desa siaga, kriteria Desa siaga,tahapan desa siaga, langkah-langkah dalam pendekatan pengembangan desa siaga, indikator keberhasilan desa siaga, kerangka konseptual dan hipotesis penelitian.

2.1. Konsep Dasar Sikap
2.1.1 Pengertian Sikap
Sikap merupakan suatu reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Dari batasan ini dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat langsung ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksana motif tertentu (Newcomb seperti dikutip oleh Nursalam, 2003 :131), jadi sikap adalah factor predisposisi tindakan atau perilaku. Ada sekitar tiga puluh definisi sikap yang pernah dirumuskan (Berkowits, 1972) puluhan definisi sikap itu pada umumnya dapat dimasukkan ke dalam tiga kerangka pemikiran (Saifuddin Azwar, 2003 :4), yaitu :
1) Kerangka pertama oleh ahli psikologi: Louis Thurstone (1928), Rensis Likert (1932), Charles Osgood.
Sikap adalah suatu bentuk elevansi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan yang mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau memihak (unfavorable) pada objek tersebut (berkowits, 1972 dikutip oleh Saifuddin Azwar, 2003 :5)
2) Kerangka kedua oleh: Chave (1928), Bogardus (1931), La piere (1934), Mead (1934), dan Gordon Alport (1935, tokoh terkenal di bidang psikologi sosial dan psikologi kepribadian)
Menurut mereka sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara–cara tertentu.
3) Kerangka pemikiran yang ketiga berorientasi pada skema triadic (triadic scheme)
Menurut pemikiran ini suatu sikap merupakan kontelasi komponen–komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling berinteraksi dalam memahami dan merasakan serta berperilaku terhadap suatu objek.
2.1.2 Tingkatan Sikap
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan (Notoatmodjo, 2003 : 132 ), yaitu :


1) Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau suatu subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
2) Merespon (Responding)
Memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah indikasi dari suatu sikap. Karena denagn usaha menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan lepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.
3) Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi dari sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah sikap yang paling tinggi.
2.1.3 Pembentukan Sikap
Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami individu. Dalam interaksi sosial terjadi hubungan saling mempengaruhi diantara individu yang satu dengan yang lain, dalam interaaksi sosialnya, individu bereaksi membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap (Saifuddin Azwar, 2003 :30 ), antara lain :
1) Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap untuk dapat mempunyai tanggapan atau penghayatan, seseoarang harus memiliki pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Seseorang yang dianggap penting, seorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita (Significant others) akan mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Pada umumnya individu cenderung untuk memiliki sifat yang konformis atau searah dengan sikap yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafilasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang–orang yang dianggap penting tersebut.
3) Pengaruh kebudayaan
Seoarang ahli psikologi yang terkenal, Burrhus Frederic Skinner sangat menekan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan ) dalam membentuk pribadi seseorang. Kepribadian katanya, tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement yang kita hadapi (Hergenhan, 1982 dikutip oleh Saifuddin Azwar, 2003 : 34). Kita memiliki pola sikap dan perilaku tertentu karena kita mendapat reinforcement (penguatan dan ganjaran) dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.


4) Media massa
Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan–pesan sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan–pesan sugesti yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat akan memberikan dasar efektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
5) Lembaga pendidikan dan Lembaga agama
Keduanya mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena meletakkan dasar pengartian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran–ajarannya. Hal ini dikarenakan konsep moral dan agama sabgat menentukan system kepercayaan maka tidaklah mengherankan kalau pada gilirannya kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap suatu hal.
6) Pengaruh faktor emosional
Kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang, akan tetapi dapat pula berupa sikap yang lebih persisten dan tahan lama.
Menurut Tri Rusmi Widayatun (1999 : 223) ada beberapa faktor yang mempengaruhi sikap yang terbagi dalam faktor intrinsik dan ekstrinsik, antara lain:
1) Faktor Intrinsik
(1) Kepribadian
Sikap dapat terekam dengan menggunakan psikometri skala sikap. Sikap dapat dipelajari, dibentuk dan sikap akan mencerminkan kepribadian seseorang.
(2) Intelegensi
Berbicara mengenai sikap yang dapat berubah/selalu berubah tentiu pengalaman (hasil pendidikan misalnya) hal tersebut sangat berpengaruh sekali. masing– asing individu berbeda segi intelegensinya maka individu satu dengan yang lain tidak sama kemampuannya dalam memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. (Bimo walgito , 2001 : 137)
(3) Bakat dan minat
Dalam menerima sebuah respon seseorang pertama akan memiliki perhatian terhadap stimulus tersebut, kemudian timbul rasa empati dan pada akhirnya individu tesebut menerima adanya stimulus. Perasaan menerima inilah yang akan membuat seseorang mempunyai minat terhadap stimulus yang nantinya akan berpengaruh terhadap sikap seorang tersebut.
(4) Perasaan
Perasaan atau emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan (state) dari diri organisme atau individu pada suatu waktu. Dengan perkataan lain perasaan disifatkan sebagai suatau keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa–peristiwa yang pada umumnya datang dari luar dan peristiwa–peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan goncangan–goncangan pada individu yang bersangkutan. (Bimo Walgito, 2001 : 139).
(5) Kebutuhan
Dalam kebutuhan sikap yang cenderung dinamis tentu dibarengi dengan perubahan–perubahan sikap akan melalui berbagai tahapan. Proses rasional meliputi perhatian, mengerti kemudian menerima setelah itu individu memiliki keyakinan dan proses emosional meliputi perhatian, empati kemudian menerima akhirnya timbul minat.
(6) Motivasi seseorang.
Untuk dapat mengubah sikap diperlukan suatu harapan yang diinginkan dalam hal ini individu memperhatikan harapan yang diinginkan pihak lain.
2) Faktor Ekstrinsik
Faktor ekstrinsik meliputi faktor lingkungan, pendidikan, ideology, ekonomi, politik dan Hankam. Pembahasan mengenai proses perubahan sikap hamper selalu dipusatkan pada cara–cara manipulasi atau pengendalian situasi dan lingkungan untuk menghasilkan perubahan sikap yang dikehendaki, hampir tak seorangpun yang tidak terkena dampak tehnologi komunikasi. Setiap hari kita dijejali iklan komersial, setiap hari disuapi isu politik dan setiap hari pula kita kenyang dengan pesan ideologi. Pada satu sisi adalah sikap manusia terbentuk dan berubah oleh dampak moderenisasi komunikasi dan pada gilirannya sikap itu sendiri berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan sosial
2.1.4 Sruktur Sikap
Terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang (Saifuddin Azwar, 2003 : 24), yakni :

1) Komponen Kognitif
Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Sering kali apa yang dipercayai seseorang merupakan stereotipe terhadap sesuatu yang telah terpolakan dalam fikirannya. Mengapa orang percaya? kepercayaan datang dari apa yang telah kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sesekali kepercayaan terbentuk maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari objek tertentu. Tentu saja kepercayaan sebagai komponen afektif tidak selalu akurat. Kadang–kadang kepercayaan itu terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi.
2) Komponen Afektif
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap. Reaksi emosional yang merupakan komponen afektif banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi objek tersebut.
3) Komponen Konatif (Perilaku)
Komponen perilaku atau komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan benyak mempengaruhi perilaku. Maksudnya, bagaimana orang berperilaku terhadap kondisi tertentu dan terhadap stimulus tertentu akan banyak ditentukan oleh bagaimana kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan persaan ini membentuk sikap individu. Karena itu adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang akan tercerminkan dalam bentuk perilaku tendensi terhadap objek
2.1.5 Karakteristik Sikap
Sesungguhnya sikap dapat dipahami lebih dari pada sekedar seberapa favourable atau seberapa tidak favorablenya perasaan seseorang, lebih dari sekedar seberapa positif atau negatifnya. Sikap dapat diungkapkan dan dipahami dari dimensinya yang lain menurut Sax (1980) seperti dikutip oleh Saifuddin Azwar (2003 :87) sikap memiliki beberapa karakteristik atau dimensi yakni :
1) Arah
Sikap terpilah pada dua arah kesetujuan yaitu setuju dan tidak setuju, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap sesuatu atau seseorang sebagai objek. Orang yang setuju atau mendukung, memihak terhadap suatu objek sikap berarti memiliki sikap yang arahnya positif, sebaliknya mereka yang tidak setuju atau tidak mendukung dikatakan memiliki sikap yang arahnya negatif.
2) Intensitas
Kedalaman atau kekuatan sikap terhadap sesuatu belum tentu sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda. Dua orang yang sama tidak sukanya terhadap sesuatu, yaitu sama–sama memiliki sikap yang berarah negatif belum tentu memiliki sikap negatif yang sama intensitasnya. Begitu juga sikap yang positif dapat berbeda kedalamannya bagi setiap orang, mulai dari agak setuju sampai pada kesetujuan yang ekstrim
3) Keluasan
Kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap suatu objek sikap dapat mengenai hanya aspek yang sedikit dan sangat spesifik akan tetapi dapat pula mencakup banyak sekali aspek yang ada pada objek sikap.
4) Konsistensi
Konsistensi disini maksudnya adalah kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responnya terhadap objek sikap tersebut. Konsistensi sikap diperlihatkan oleh kesesuaian sikap antar waktu. Untuk dapat konsisten, sikap harus bertahan dalam diri individu untuk waktu yang relatif panjang. Sikap yang sangat cepat berubah, yang labil, tidak dapat bertahan lama dikatakan sebagai sikap yang inkonsisten
5) Spontanitas
Menyangkut sejauh mana kesiapan individu untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Sikap dinyatakan memiliki spontanitas yang tinggi apabila dapat dinyatakan secara terbuka tanpa harus melakukan pengungkapan atau desakan lebih dahulu agar individu mengemukakannya. Hal ini tampak dari pengamatan terhadap indikator sikap atau perilaku sewaktu individu berkesempatan untuk mengemukakan sikapnya.

2.1.6 Ciri–Ciri Sikap
Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan, orang–orang atau kejadian–kejadian. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap, adapun ciri–ciri sikap adalah sebagai berikut (Drs. H. Abu Ahmadi, 1999 : 178) :
1) Sikap itu dipelajari (Learnability)
Sikap merupakan hasil belajar, beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu.
2) Memiliki kestabilan (Stability)
Sikap bermula dari dipelajari, kemudian menjadi lebih kuat, tetap dan stabil melalui pengalaman.
3) Personal- Societil Significance
Sikap memiliki hubungan antara seseorang dengan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi.
4) Kognisi dan Afeksi
Komponen kognisi dari sikap adalah berisi informasi yang aktual
6) Approach – Avoidance Directionality
Bila seseorang memiliki sikap yang favorable terhadap suatu objek, mereka akan mendekati dan membantunya, sebaliknya bila seseorang memiliki sikap yang unfavorable, mereka akan menghindarinya.


2.1.7 Fungsi sikap
Fungsi sikap dapat dibagi menjadi empat golongan (Drs. Abu Ahmadi, 1999 : 179):
1) Sikap berfungsi antara lain sebagai alat untuk menyesuaikan diri. Bahwa sikap adalah sesuatu yang bersifat communicable, artinya sesuatu yang mudah menjalar, sehingga mudah pula menjadi milik bersama.
2) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku
3) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman–pengalaman . dalam hal ini perlu dikemukakan bahwa sikap manusia dalam menerima pengalaman-pengalaman dari dunia luar, sikapnya tidak pasif tetapi aktif.
4) Sikap berfungsi sebagi pernyataan pribadi. Sikap sering mencerminkan pribadi seseorang. Ini sebabnya karena sikap tidak pernah terpisah dari pribadi yang mendukungnya.
2.1.8 Persuasi Dan Pengubahan Sikap Manusia
Pemahaman mengenai mekanisme perubahan dan pengubahan sikap sangat diperlukan karena sebagai manusia kadang–kadang kita berperan sebagai agen perubahandan kadang – kadang kita berperan sebagai subjek perubahan. Pada teori kelman ditunjukkan bagaimana sikap berubah melalui tiga proses yaitu kesediaan, identifikasi dan internalisasi. Persuasi merupakan usaha pengubahan sikap dengan memasukkan ide, fikiran dan pendapat bahkan fakta baru melalui pesan–pesan yang komunikatif. Pesan yang disampaikan dengan sengaja dimaksudkaan untuk menimbulkan kontradiksi dan inkosistensi diantara komponen sikap individu atau diantara sikap dan perilakunya, sehingga mengganggu kestabilan sikap dan membuka peluang terjadinya perubahan yang diinginkan. Menurut Hovland dkk dalam studinya menyatakan ada asumsi dasar dalam perubahan sikap yaitu anggapan bahwa efek komunikasi tertentu akan tergantung sejauh mana komunikasi itu diperhatikan, dipahami dan diterima. Menurut Mc Guire (1968) persuasi sebagai proses yang mencakup 2 langkah pokok yaitu penangkapan isi pesan (reception) dan penerimaan apa yang telah dipahami (Acceptence), rumusan ini menunjukkan bahwa terjadinya perubahan pendapat atau sikap merupakan fungsi interaksi antara probabilitas terjadinya pemahaman dan probabilitas diterimanya isi yang dipahami oleh individu.
Mc Guiren menambahkan bahwa dalam proses persuasi terdapat dua langkah lanjutan, yaitu retensi atau pengendapan isi yang telah disetujui dan tindakan sesuai dengan isi tersebut. Dengan demikian persuasi dapat dianggap melibatkan langkah–langkah perhatian, penerimaan, pengendapan, dan tindakan. Dalam pendekatan belajar pesan (massage learning approac) mengatakan bahwa proses paling dasar dalam pengubahan sikap manusia adalah atensi,pemahaman, penerimaan danb retensi. Keempatnya merupakan proses perantara internal yang mempengaruhi karakteristik sumber pesan, pesan itu sendiri target atau orang yang sikapnya hendak dirubah dan saluran yang digunakan dalam penyampaian dan penerimaan pesan.
2.1.9 Pengukuran Sikap
Pengukuran dan pemahaman terhadap sikap, idealnya harus mencakup kesemua dimensi sikap. Tentu saja hal ini sulit dilakukan, bahkan mungkin sekali merupakan hal yang mustahil. Belum ada atau mungkin tidak pernah ada instrument pengukuran sikap yang dapat mengungkap kesemua dimensi sikap sekaligus. Banyak diantara skala yang digunakan dalam pengukuran sikap hanya mengungkap dari dimensi arah dan dimensi intensitas sikap saja, yaitu dengan kecenderungan sikap positif atau negatif dan memberi tafsiran mengenai derajat kesetujuan dan ketidaksetujuan terhadap respon individu. Berbagai tehnik dan metode telah dikembangkan oleh para ahli guna mengungkapkan sikap manusia dan memberikan interpretasi yang valid. Usaha pengukuran sikap sendiri dipacu oleh sebuah artikel yang ditulis oleh Louis Thurstone ditahun 1928 yang berjudul “ Attitudes Can Be Measured “ dan ternyata sampai sekarang sudah lebih dari 500 macam metode pengukuran sikap yang muncul (Fishbein dan Ajzen, 1972 dalam Brehm dan Kassin,1998). Berikut adalah uraian mengenai beberapa diantara banyak metode pengungkapan sikap yang secara historic telah dilakukan orang (Saifuddin Azwar, 2003 : 134) :
1) Observasi perilaku
Kalau seseorang menampakkan perilaku yang konsisten (berulang) misalnya tidak pernah mau diajak nonton film Indonesia, bukankah kita berkesimpulan bahwa dia tidak menyukai film Indonesia. Oleh karena itu sangat masuk akal tampaknya pabila sikap ditafsirkan dari bentuk perilaku yang tampak. Dengan kata lain, untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu kita dapat memperhatikan perilakunya, sebab perilaku salah satu indicator yang baik bagi sikap apabila sikap berada pada kondisi ekstrim.
2) Penanyaan lansung
Asumsi yang mendasari metode penanyaan langsung guna pengungkapan sikap pertama adalah asumsi bahwa individu merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri dan kedua adalah asumsi keterusterangan secara terbuka apa yang dirasakannya. Oleh karena itu, dalam metode ini jawaban yang diberikan oleh mereka yang ditanyai menjadi indikator sikap mereka. Telaah yang lebih mendalam dan hasil–hasil penelitian telah meruntuhkan asumsi–asumsi tersebut diatas. (Edwards, 1957 dikutip oleh Saifuddin Azwar, 2003 : 91). Ternyata orang akan mengemukakan pendapat dan jawaban yang sebenarnya secara terbuka hanya apabila situasi dan kondisi memungkinkan.
3) Pengungkapan Lansung
Suatu versi metode penanyaan lansung adalah pengungkapan langsung (Direct assessment) secara tertulis yang dapat dilakukan dengan menggunakan metode aitem tunggal maupun dengan menggunakan aitem ganda (Ajzen, 1998 dikutip oleh Saifuddin Azwar, 2003 : 93). Prosedur pengungkapan langsung dengan aitem tunggal sangat sederhana. Responden diminta menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju dan tidak setuju. Salah satu bentuk pengungkapan langsung dengan menggunakan metode aitem ganda adalah diferensiasi somatic (Saifuddin Azwar, 2003 : 94). Dirancang untuk mengungkap efek atau perasaan yang berkaitan dengan suatu objek sikap.
2.2 Konsep Dasar Masyarakat
2.2.1 Pengertian
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, atau dengan istilah lain saling berinteraksi. Kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa iden¬itas bersama. (Kontjaraningrat, 1990).
Masyarakat atau komunitas adalah menunjuk pada bagian masyarakat yang berrtempat tinggal di suatu wilayah (dalam arti geografi) dengan batas-batas terezntu, di mana yang menjadi dasarnya adalah interaksi yang lebih besar dari anggota-anggotanya, dibandingkan dengan penduduk di luar batas wilayahnya. (Soerdjono Soekanto, 1982).
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang mendiami teritorial tertentu dan adanya sifat-sifat yang saling tergantung, adanya pembagian kerja dan kebudayaan bersama (Mac Laver, 1957).
Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja sama, sehingga dapat mangorganisasikan diri dan berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu (Linton, 1936).
2.2.2 Ciri-Ciri Masyarakat
Dan berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Interaksi diantara sesama anggota masyarakat.
2) Menempati wilayah dengan batas-batas tertentu.
3) Saling tergantung satu dengan lainnya.
4) Memiliki adat istiadat tertentu/kebudayaan.
5) Memiliki identitas bersama.


2.2.3 Tipe-Tipe Masyarakat
Menurut Gilin and Gilin lembaga masyarakat dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1) Dilihat dari Sudut perkembangannya
a. Cresive Institution
Lembaga masyarakat yang paling primer, merupakan lembaga-lembaga yang secara tidak disengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat, misalnya yang menyang-kut. hak milik, perkawinan, agama dan sebagamya.
b. Enacted Institution
Lembaga kemasyarakatan yang sengaja dibentuk untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya yang menyangkut : lembaga utang-piutang, lembaga perdagangan, pertanian, pendidikan yang kesemuanya berakar kepada kebiasaan-kebisaan dalam masyarakat.
2) Dari Sudut Sistem Nilai yang diterima oleh Masyarakat
a) Basic Institution
Adalah lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib dalam masyarakat, diantaranya keluarga, sekolah-sekolah yang dianggap sebagai institusi dasar yang pokok.
b) Subsidiary institution
Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang muncul tetapi dianggap kurang penting, karena untuk memenuhi kegiatan-kegiatan tertentu saja. Misalnya pembentukan panitia rekreasi. Pelantikan/ wisuda bersama dan sebagainya.

3) Dari sudut penerimaan masyarakat
a) Approved atau social sanctioned institution
Adalah lembaga yang diterima oleh masyarakat seperti sekolah, perusahaan, ko¬perasi dan sebagainya.
b) Unsanctioned institution
Adalah lembaga-lembaga masyarakat yang ditolak oleh masyarakat, walaupun kadang-kadang masyarakat tidak dapat memberantasnya, misalnya kelompok pen-jahat, pemeras, pelacur, gelandangan dan pengemis dll.
4) Dari Sudut Penyebarannya
a) General institution
Adalah lembaga masyarakat didasarkan atas faktor penyebarannya. Misalnya agama karena dikenal hampir semua masyarakat dunia.
b) Restricted institution
Adalah lembaga-lembaga agama yang dianut oleh masyarakat tertentu saja misalnya Budha banyak dianut oleh Muangthai, Vietnam, Kristen katolik banyak dianut oleh masyarakat Itali, Prancis, Islam oleh masyarakat arab dan sebagainya.
5) Dari Sudut Fungsi
a) Operative institution
Adalah lembaga masyarakat yang menghimpun pola-pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang bersangkutan, seperti lembaga in-dustri.


b) Regulative institution
Adalah lembaga yang bertujuan untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian mutlak daripada lembaga itu sendiri, misalnya lembaga hukum diantaranya kejaksaan, pengadilan dan sebagainya.
2.2.4 Ciri-Ciri Masyarakat Indonesia
1) Masyarakat Desa
a. Hubungan keluarga dan masyarakat sangat kuat.
b. Hubungan didasarkan kepada adat istiadat yang kuat sebagai organisasi sosial.
c. Percaya kepada kekuatan-kekuatan gaib.
d. Tingkat buta huruf relatif tinggi.
e. Berlaku hukum tidak tertulis yang intinya diketahui dan dipahami oleh setiap orang.
f. Tidak ada lembaga pendidikan khusus dibidang teknologi dan keterampilan diwariskan oleh orangtua langsung kepada keturunannya.
g. Sistem ekonomi sebagian besar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keiu¬arga dar. sebagian kecil dijual dipasaran untukmemenuhi kebutuhan lainnya. Dan uang berperan sangat terbatas.
h. Semangat gotong royong dalam bidang sosial dan ekonomi sangat kuat.
2) Masyarakat Madya
a. Hubungan antara keluarga masih tetap kuat, mengendor.
b. Adat istiadat masih dihonnati, dan sikap masarakat. mulai terbuka dari pe¬ngaruh luar.
c. Timbul rasionaiitas pada cara bertikir, sehingga kepercayaan terhadap kekiiatan-kekuatan gaib Mulai bcrkurang dan akan timbul kembali apabila telah kehabisan akal.
d. Timbul lembaga pendidikan formal dalam masyarakat terutama pendidikan dasar dan menengah.
e. Tingkat buta huruf sudah mulai menurun.
f. Hukum tertulis nilai mendampingi hukum tidak tertulis.
g. Ekonomi masyarakat lebih banyak mengarah kepada produksi pasaran, hingga menimbulkan deferensiasi dalam struktur masyarakat. karenanya uang sernakin meningkat penggunaannya.
h. Gotong Royong tradisional tinggal untuk keperluan sosial dikalangan keluarga dan tetangga. Dan kegiatan-kegiatan umum lainnya didasarkan upah.
3) Ciri-Ciri Masyarakat Modern
a. Hubungan antar manusia didasarkan atas kepentingan-kepentingan pribadi.
b. Hubungan aniar masyarakat dilakukan secara terbuka dalam suasana saling pengaruh mempengaruhi.
c. Kepercayaan masyarakat yang kuat terhadap manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatan kesejahteraan masyarakat strata masyarakat digolongkan menurut profesi dan keahlian yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga-lembaga keterampilan dan keju¬ruan.
d. Tingkat pendidikan formal tinggi dan merata.
e. Hukum yang berlaku adalah hukum tertulis yang kompleks.
f. Ekonomi hampir seluruhnya ekonomi pasar yang didasarkan atas penggunaan uang dan alat pembayaran lainnya.
2.2.5 Ciri-ciri masyarakat sehat
1) Peningkatan kemampuan tnasyarakat untuk hidup sehat.
2) Mengatasi masalah kesehatan sederhana melalui upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan penyakit dan penelitian kesehatan terutama un¬tuk ibu dan anak.
3) Peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup.
4) Peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat.
5) Penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit.
2.2.6 Indikator ciri masyarakat sehat
Menurut WHO beberapa indikator dari masyarakat sehat adalah :
1) Keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat, meliputi:
a. Indikator komprehensif
(1) Angka kematian kasar menurun.
(2) Rasio angka mortalitas proporsional rendah.
(3) Umur harapan hidup meningkat.
b. Indikator spesifik
(1) Angka kematian ibu dan anak menurun.
(2) Angka kematian karena penyakit menular menurun.
(3) Angka kelahiran menurun.
2) Indikator pelayanan kesehatan
a. Rasio antara tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang.
b. Distribusi tenaga kesehatan merata.
c. Informasi lengkap tentang jumlah tentpat tidur di rumah sakit, kesehatan lain, dan sebagainya.
d. lnformasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehatan diantaranya rumah sakit, Puskesmas rumah bersalin dan sebagainya.
2.2.7 Masalah-Masalah Kesehatan dalam Masyarakat Indonesia
Jenis masalah:
1) Tingginya angka pertumbuhan penduduk (1,98%).
2) Tingginya angka kematian ibu dan anak.
a. Angka kematian ibu (42 per 100.000 kelahiran hidup).
b. Angka kematian bayi (57 per 1.000 kelahiran hidup).
c. Angka kematian balita (84 per 1.000).
3) Tingginya angka kesakitan karena penyakit menular, diantaranya adalah:
a. Penyakit infeksi usus 15,1%
b. Tuberkulosis 3,2%
c. Demam Berdarah 1,3%
d. ISPA 3,4%
e. Infeksi Saluran napas bawah 5,8%
4) Meningkatnya angka kesakitan penyakit tidak menular, diantaranya adalah :
a. Penyakit jantung 2,3%
b. Neoplasma 4,0%
c. Penyakit cedera 10,8%
d. Penyakit gangguan mental 2,1%
5) Masalah kesehatan lingkungan
a. Keadaan lingkungan fisik dan biologis yang belum memadai.
b. Baru sebagian kecil penduduk yang menikmati air bersih dan fasilitas kesehatan lingkungan.
c. Pembinaan program peningkatan lingkungan belum berjalan seperti yang diharapkan.
2.3 Konsep Dasar Desa Siaga
2.3.1 Pengertian
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri (www.dinkesjatim.co.id ).
Desa siaga adalah desa yang telah menjalankan system kesehatan yang adil bagi masyarakat bersama negara, yang bertujuan untuk menjaga kesehatan warga terutama untuk mencegah kematian ibu dan bayi dengan mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan tindakan yang didasarkan atas pilihan masyarakat itu sendiri (Bakti Husada USAID Indonesia, 2000 : 2).
2.3.2 Tujuan Desa Siaga
Menurut Dinkes Pamekasan (2006) tujuan desa siaga terbagi menjadi 2, yaitu:

1) Tujuan Umum
Terwujudnya desa sehat dengan masyarakat yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di desanya.
2) Tujuan Khusus
a. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.
b. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.
c. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat desa terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah penyakit dan sebagainya).
d. Meningkatnya kesehatan lingkungan di desa.
e. Meningkatnya keluarga sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat.
2.3.3 Sasaran Desa Siaga
Adapun sasaran pengembangan desa siaga di bedakan menjadi 3 kelompok, antara lain :
1) Sasaran pemberdayaan
Meliputi semua individu dan keluarga di desa, yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya.
2) Sasaran bina suasana
Meliputi pihak–pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perilaku individu dan keluarga di desa atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut yaitu tokoh–tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh perempuan, pemuda, PKK, karang taruna, media massa dan lain sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan tokoh agama adalah orang atau seseorang yang ditokohkan oleh masyarakat karena nilai spiritualnya.
3) Sasaran advokasi
Meliputi pihak–pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan, peraturan perundang–undangan, dana, tenaga, sasaran dan lain-lain yaitu kepala desa, perangkat desa. camat, pejabat pemerintahan lainnya, dunia usaha dan donatur. Adapun yang dimaksud dengan perangkat desa adalah unsure pembantu kepala desa di wilayah bagian desa. Perangkat desa terdiri dari Sekretaris desa dan perangkat desa lainnya. Adapun yang dimaksud dengan perangkat desa yang lain yaitu: pelaksana tekhnis lapangan,unsure kewilayahan, kepala urusan, unsure pelaksana, dan kepala dusun.(Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kab Sumenep,2006 : 8).
(www.dinkesjatim.co.id)
2.3.4 Kriteria Desa Siaga (www.dinkesjatim.co.id)
Dalam pelaksanaan suatu desa siaga harus memenuhi beberapa kriteria sebagai berikut :
1). Memiliki pelayanan kesehatan dasar, dimana di desa yang tidak memiliki akses ke Puskesmas atau Pustu (Puskesmas Pembantu), dikembangkan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes).
2). Memiliki berbagai UKBM sesuai kebutuhan masyarakat setempat, seperti posyandu, dan lain-lain.
3). Memiliki sistem surveilans (penyakit dan faktor resiko penyakit) berbasis masyarakat.
4). Memiliki sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.
5). Memiliki sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat.
6). Memiliki lingkungan yang sehat.
7). Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.
2.3.5 Tahapan Desa Siaga
Agar sebuah desa menjadi desa siaga maka desa tersebut harus memiliki forum desa/ lembaga kemasyarakatan yang aktif dan adanya sarana pelayanan kesehatan dasar desa. Dalam pengembangannya desa siaga akan meningkat dengan membagi menjaidi 4 kriteria desa siaga, yaitu :
1) Tahap Bina
Pada tahap ini forum kesehatan masyarakat desa mungkin belum terbentuk, namun telah ada forum/ lembaga masyarakat desa yang telah berfungsi dalam bentuk apa saja, misalnya kelompok musyawarah desa, kelompok yasinan atau persekutuan doa, dan sebagainya. Demikian juga posyandu dan polindesnya mungkin masih pada tahap pertama. Pembinaan intensif dari petugas kesehatan dan petugas sektor lainnya sangat diperlukan, misalnya dalam bentuk pendampingan saat ada pertemuan forum desa untuk meningkatkan kinerja forum dengan pendekatan PKMD.
2) Tahap Tumbuh
Pasca tahap ini telah terbentuk forum kesehatan masyarakat Desa dan sudah mulai timbul gagasan-gagasan baru dari anggota forum untuk mengembangkan UKBM sesuai kebutuhan masyarakat selain posyandu. Demikian juga polindes dan posyandu sedikitnya sudah pada tahap madya.
Pendampingan dari tim Kecamatan atau petugas dari sektor/LSM masih sangat diperlukan untuk pengembangan kualitas posyandu atau pengembangan UKBM lainnya. Hal penting lain yang diperhatikan adalah pembinaan dari Puskesmas PONED sehingga semua hamil bersalin nifas serta bayi baru lahir yang resiko tinggi dapat ditangani dengan baik. Disamping itu sistem survelians berbasis masyarakat juga sudah dapat berjalan, artinya masyarakat mampu mengamati penyakit serta faktor resiko di lingkungannya secara terus-menerus dan melaporkan serta memberikan informasi pada petugas kesehatan/yang terkait.
3) Tahap Kembang
Pada tahap ini forum kesehatan masyarakat telah berperan secara aktif dan mampu mengembangkan UKBM sesuai kebutuhan masyarakat dengan biaya berbasis masyarakat. Sistem kewaspadaan dini masyarakat menghadapi bencana dan kejadian luar biasa telah dilaksanakan dengan baik, demikian juga dengan sistem pembiayaan kesehatan berbasis masyarakat. Pembinaan masih diperlukan meskipun tidak terlalu intensif.
4) Tahap Paripurna
Pada tahap ini semua indikator dalam kriteria Desa Siaga sudah dipenuhi. Masyarakat sudah hidup dalam lingkungan sehat serta berperilaku hidup bersih dan sehat. Masyarakat sudah mandiri dan siaga. Pendampingan dari Tim Kecamatan sudah tidak diperlukan lagi. (Dinkes.Pamekasan, 2006).
2.3.6 Kegiatan dalam Desa Siaga
1). Sistem pencatatan pelaporan K3 (SIPPEN K3).
2). Adanya pengalaman donor darah .
3). Adanya kelompok transportasi/ambulan desa.
4). Penggalangan dana (TABULIN, DASOLIN).
2.3.7 Langkah-langkah dalam Pendekatan Pengembangan Desa Siaga
1) Pengembangan Tim Petugas
Langkah ini merupakan awal kegiatan, sebelum kegiatan-kegiatan lainnya dilaksanakan. Tujuan langkah ini adalah mempersiapkan para petugas kesehatan yang berada di wilayah Puskesmas, baik petugas teknis maupun petugas administrasi. Persiapan para petugas ini bisa berbentuk sosialisasi, pertemuan atau pelatihan yang bersifat konsolidasi, yang disesuaikan dengan kondisi setempat.
Keluaran atau output dari langkah ini adalah para petugas yang memahami tugas dan fungsinya, serta siap kerjasama dalam satu tim untuk melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat.
2) Pengembangan Tim di Masyarakat
Tujuan langkah ini adalah untuk mepersiapkan para petugas, tokoh masyarakat, serta masyarakat (forum Kesehatan Desa), agar mereka tahu dan mau bekerjasama dalam satu tim untuk mengembangkan Desa Siaga. Dalam langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu kebijakan, agar mereka mau memberikan dukungan, baik berupa kebijakan, agar mereka mau memberikan dukungan, baik berupa kebijakan atau anjuran, serta restu maupun dana atau sumber daya lain, sehingga pengembangan Desa Siaga dapat berjalan dengan lancar. Sedangkan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat bertujuan agar meraka memahami dan mebdukung, khususnya dalam membentuk opini publik guna menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan Desa Siaga.
Jadi dukungan yang diharapkan dapat berupa dukungan moral, dukungan finansial atau dukungan material, sesuai kesepakatan dan persetujuan masyarakat dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
Jika di daerah tersebut telah terbentuk wadah-wadah kegiatan masyarakat di bidang kesehatan seperti forum Kesehatan Desa, konsil Kesehatan Kecamatan atau Badan Penyantun Puskesmas, Lembaga Pemberdayaan Desa, PKK, serta organisasi kemasyarakatan lainnya, hendaknya lembaga-lembaga ini diikutsertakan dalam setiap pertemuan dan kesepakatan.
3) Survei Mawas Diri
Survei Mawas Diri (SMD) atau Tela’ah Mawas Diri (TMD) atau Community Self Survey (CSS) bertujuan agar pemuka-pemuka masyarakat mampu melakukan telaah mawas diri untuk desanya. Survei harus dilakukan oleh pemuka-pemuka masyarakat setempat dengan bimbingan tenaga kesehatan. Dengan demikian, diharapkan mereka menjadi sadar akan permasalahan yang dihadapi di desanya, serta bangkit niat atau tekat untuk mencari solusinya, termasuk membangun Poskesdes sebagai upaya mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat Desa. Untuk itu, sebelumnya perlu dilakukan pemilihan dan pembekalan keterampilan bagi mereka.
Keluaran atau output dari SMD ini berupa identifikasi masalah-masalah kesehatan serta daftar potensi di Desa yang dapat didayagunakan dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan tersebut, termasuk dalam rangka membangun Poskesdes.
4) Musyawarah Masyarakat Desa
Tujuan penyelenggaraan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) ini adalah mencari alternatif penyelesaian masalah kesehatan dan upaya membangun Poskesdes dikaitkan dengan potensi yang dimiliki Desa. Disamping itu juga perlu untuk menyusun rencana jangka panjang pengembangan Desa Siaga.
Inisiatif penyelenggaraan musyawarah sebaiknya berasal dari tokoh masyarakat yang telah sepakat mendukung pengembangan Desa Siaga. Peserta musyawarah adalah tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh perempuan dan generasi muda setempat. Bahkan sedapat mungkin dilibatkan pula kalangan dunia usaha yang mau mendukung pengembangan Desa Siaga dan kelestariannya (untuk itu diperlukan advokasi).
Data serta temuan lain yang diperoleh pada saat SMD disampaikan, utamanya adalah daftar masalah kesehatan, data potensi, serta harapan masyarakat.
Hasil pendataan tersebut dimusyawarahkan untuk penentuan prioritas, serta langkah-langkah solusi untuk pembangunan Poskesdes dan pengembangan Desa Siaga.
5) Pelaksanaan Kegiatan
Secara operasional pembentukan Desa Siaga dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut :
a) Pemilihan Pengurus dan Kader Desa Siaga
Pemilihan pengurus dam kader Desa Siaga dilakukan melalui pertemuan khusus para pimpinan formal Desa dan tokoh masyarakat serta beberapa wakil masyarakat. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dan mufakat, sesuai dengan tata cara dan kriteria yang berlaku, dan difasilitasi oleh Puskesmas.
b) Orientasi/Pelatihan Kader Desa Siaga
Sebelum melaksanakan tugasnya, kepada pengelola dan kader Desa yang telah ditetapkan perlu diberika orientasi atau pelatihan. Orientasi/pelatihan dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai dengan pedoman orientasi/pelatihan yang berlaku.
Materi orientasi/pelatihan mencakup kegiatan yang akan dilaksanakan di desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga (sebagaimana telah dirumuskan dalam rencana operasional), yaitu meliputi pengelolaan Desa Siaga secara umum, pembangunan dan pengelolaan Poskesdes, pembangunan dan pengelolaan UKBM lain serta hal-hal penting terkait seperti kehamilan dan persalinan sehat, Siap-Antar-Jaga, Keluarga Sadar Gizi, Posyandu, kesehatan lingkungan, pencegahan penyakit menular, penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman (PAB-PLP), kegawat-daruratan sehari-hari, kesiap siagaan bencana, kejadian luar biasa (KLB), warung obat Desa (WOD), diversifikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaatan pekarangan melalui Taman Obat Keluarga (TOGA), kegiatan surveilans, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan lain-lain.
c) Pengembangan Poskesdes dan UKBM lain.
Dalam hal ini pembangunan Poskesdes bisa dikembangkan dari polindes yang sudah ada. Apabila tidak ada Polindes, maka perlu dibahas dan dicantumkan dalam rencana kerja alternatif lain pembangunan Poskesdes. Dengan demikian diketahui bagaimana Poskesdes tersebut akan diadakan membangun baru dengan fasilitas dari Pemerintah, membangun baru dengan bantuan dari donatur, membangun baru dengan swadaya masyarakat atau memodifikasi bangunan lain yang ada.
Bila mana Poskesdes sudah berhasil diselenggarakan, kegiatan dilanjutkan dengan membentuk UKBM lain seperti Posyandu dan lain-lain dengan berpedoman kepada panduan yang berlaku.

d) Penyelenggaraan Kegiatan Desa Siaga
Dengan telah adanya Poskesdes, maka Desa yang bersangkutan telah ditetapkan sebagai Desa Siaga. Setelah Desa Siaga resmi dibentuk, dilanjutkan dengan pelaksanaan kegiatan Poskesdes secara rutin, yaitu pengembangan sistem surveilans berbasis masyarakat, pengembangan kesiapsiagaan dan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana, pemberantasan penyakit menular dan penyakit yang berpotensi menimbulkan KLB, penggalangan dana, pemberdayaan masyarakat menuju kadarzi dan PHBS, penyehatan lingkungan serta pelayanan kesehatan dasar (bila diperlukan). Selain itu diselenggarakan pula pelayanan UKBM lain seperti Posyandu dan lain-lain dengan berpedoman kepada panduan yang berlaku.
Secara berkala kegiatan Desa Siaga dibimbing dan dipantau oleh Puskesmas, yang hasilnya dipakai sebagai masukan untuk perencanaan dan pengembangan Desa Siaga selanjutnya secara lintas sektoral.
e) Pembinaan Dan Peningkatan
Mengingat permasalahan kesehatan sangat dipengaruhi oleh kinerja sektor lain, serta adanya keterbatasan sumberdaya, maka untuk memajukan Desa Siaga perlu adanya pengembangan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak. Perwujudan dari pengembangan jejaring Desa Siaga dapat dilakukan melalui Temu Jejaring UKBM secara Internal di dalam Desa sendiri dan atau Temu jejaring antar Desa Siaga (minimal sekali dalam setahun). Upaya ini selain memantapkan kerjasama, juga diharapkan dapat menyediakan wahana tukar-menukar pengalaman dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bersama. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pembinaan jejaring lintas sektor, khususnya dengan program-program pembangunan yang bersasaran Desa.
Salah satu kunci keberhasilan dan kelestarian Desa Siaga adalah keaktifan para kader. Oleh karena itu, dalam rangka pembinaan perlu dikembangkan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan pada kader agar tidak drop out, kader-kader yang memiliki motivasi memuaskan kebutuhan sosial psikologisnya harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kreativitasnya. Sedangkan kader-kader yang masih dibebani dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya, harus dibantu untuk memperoleh pendapatan tambahan, misalnya dengan pemberian gaji / intensif atau fasilitas agar dapat berwirausaha.
Untuk dapat dilihat perkembangan Desa Siaga, perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi. Berkaitan dengan itu, kegiatan-kegiatan di Desa Siaga perlu dicatat oleh kader, misalnya dalam buku register UKBM (contohnya : atau RIAD dalam Sistem Informasi Posyandu). (Dinkes.Pamekasan, 2006).
2.3.8 Indikator Keberhasilan Desa Siaga
Keberhasilan pelakasanaan Desa Siaga dapat diukur berdasarkan 3 indikator di bawah ini, antara lain :
1) Indikator masukan (input)
Meliputi :
a. Ada atau tidaknya forum masyarakat desa.
b. Ada atau tidaknya sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi desa yang tidak punya akses Puskesmas / pustu : ada atau tidaknya poskesdes dan bangunannya).
c. Ada atau tidaknya UKBM lain.
d. Ada atau tidaknya tenaga kesehatan.
e. Ada atau tidaknya dana untuk kesehatan masyarakat desa.
2) Indikator Proses (Process)
Meliputi :
a. Frekwensi pertemuan forum masyarakat desa.
b. Berfungsi atau tidaknya pelayanan kesehatan dasar atau poskesdes.
c. Berfungsi atau tidaknya UKBM yang ada.
d. Berfungsi atau tidaknya sistem kesiap siagaan dan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana.
e. Berfungsi atau tidaknya sistem suvellans berbasis masyarakat.
f. Ada atau tidaknya kegiatan promosi kesehatan untuk KADARZI dan PHBS.
3) Indikator Keluaran (out put)
Meliputi :
a. Cakupan pelayaran kesehatan dasar atau poskesdes.
b. Cakupan pelayanan UKBM lain.
c. Jumlah kasus kegawatdaruratan dan kejadian luar biasa (KLB) yang dilaporkan.
d. Cakupan rumah tangga yang mendapat promosi kesehatan untuk KADARZI dan PHBS. (www.dinkesjatim.go.id)
2.4 Kerangka Konseptual











Keterangan :
: Arah penelitian
: Ditelit : Tidak diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga (Di Desa Sumedangan Dan Durbuk) Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan. 2008
Berdasarkan kerangka konseptual di atas, dapat diketahui bahwa sikap masyarakat dalam pelaksanaan Desa Siaga mencakup asoek kognitif, afektif dan konatif. Dimana dalam pengaplikasiannya dapat diidentifikasi adanya 2 sikap yang mendukung dan sikap yang tidak mendukung dari masyarakat dalam melaksanakan Desa Siaga sehingga pada akhirnya dapat diketahui apakah Desa Siaga tersebut dalam pelaksanaannya adalah kurang, cukup atau baik.
2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban peneliti, patokan duga dan dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian (Notoatmodjo, 2002).
HI : Adanya perbedaan sikap masyarakat terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec. Pedemawu Pamekasan.








BAB 3
METODE PENELITIAN

Metode Penelitian merupakan suatu cara untuk memecahkan masalah menurut metode keilmuan (Notoadmodjo, 2001:134). Pada bab ini akan disajikan lebih jelas lagi tentang metode penelitian yang dilaksanakan meliputi desain penelitian, kerangka kerja (frame work), populasi, sampel, sampling, identifikasi variabel, definisi operassional, pengumpulan dan analisa data, etika penelitian dan keterbatasan.
3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian (Moh. Nazir, 1999 : 99). Rancangan atau desain penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam penelitian yang memungkinkan pemaksimalan kontrol beberapa faktor yang mempengaruhi suatu hasil (Nursalam, 2003 ; 79)
Menurut tujuan dalam penelitian ini desain penelitian yang digunakan adalah Analitic comparatif cross sectional non eksperimental. Anilytic comparatif artinya penelitian bertujuan untuk melaksanakan analisa perbandingan terhadap pengaruh (efek) pada kelompok subjek tanpa adanya suatu perlakuan (Nursalam , 2003 : 85). Penelitian comparatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengkaji perbandingan terhadap pengaruh atau efek pada kelompok subjek tanpa adanya suatu perlakuan/rekayasa dari peneliti (Nursalam , 2003 : 85). Sedangkan cross sectional artinya subyek diobservasi hanya satu kali dan pengukuran variabel independen dan dependen dilakukan pada kurun waktu yang sama. Non exprimental artinya tidak ada tindakan/perlakuan khusus pada variabel yang diteliti (Nursalam, 2003 : 85).
3.2 Kerangka Kerja (Frame Work)

















Gambar 3.1 Kerangka Kerja Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga Di Desa Sumedangan Dan Desa Durbuk Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan 2008


3.3 Identifikasi Variabel
3.3.1 Pengertian variabel
Variabel adalah ukurana atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda yang dimiliki oleh kelompok lain (Notoatmodjo, 2002 : 70). Pengertian lain menyatakan variabel ialah konsep yang mempunyai bermacam– macam nilai (Moh. Nazir, 1999 : 149). Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu:
3.3.2 Variabel Independen
Adalah variabel bebas atau faktor yang diduga sebagai penyebab yang mempengaruhi variabel dependen (Notoatmodjo, 2002 : 70). Variabel independen dalam penelitian ini adalah sikap masyarakat.
3.3.3 Variabel dependen
Adalah variaabel yang dipengaruhi variabel bebas atau depenen (Notoatmojo, 2002 : 70). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pelaksanaan Desa Siaga.
3.4 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati/diukur itulah yang merupakan kunci definisi operasional (Nursalam, 2001 : 44).




Tabel 3.1
Definisi operasional
Study Komparasi Sikap Masyarakat terhadap Pelaksanaan Desa Siaga
Di Desa Sumwdangan dan Desa Durbuk Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah
Kec. Pademawu Pamekasan 2008

Variabel Definisi
Indikator Alat Ukur Skala Skor
Variabel independen sikap masyarakat terhadap pelaksanaan desa siaga
Reaksi atau respon seseorang yang masih belum mendukung atau yang mendukung terhadap pelaksanaan Desa Siaga
Berisi kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan dengan benar terhadap 15 pertanyaan tentang pelaksanaan Desa Siaga dari ranah kognitif, afektif dan konatif Kuesioner skala likert
Nominal
Pernyataan positif

SS :5
S :4
RR :3
TS :2
STS:1

Pernyataan negatif

SS :1
S :2
RR :3
TS :4
STS:5



Variabel dependen
Pelaksanaan Desa Siaga Program pemerintah di bidang kesehatan yang bisa dilaksanakan oleh desa untuk mencegah dan mengatasi masalah- masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan kesehatan secara mandiri. Diukur berdasarkan 3 indikator , yaitu: input, proses dan output dari pelaksanaan Desa Siaga Chek List ordinal Berisi 15 perta nyaan jika jawaban
Ya : 1
Tidak : 0
Diinter pretasi kan
Baik 76%- 100%
Cukup 35%- 75%
Kurang
< 35%


3.5 Sampling Desain


3.5.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari suatu variabel yang menyangkut masalah yang diteliti (Nursalam dan pariani, 2001 : 64). Ada juga yang menjelaskan bahwa populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti ( Notoatmodjo, 1998 : 75 ). Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh warga usia 20–24 tahun, tokoh agama dan perangkat desa yang tercatat di Dusun Barat, Tengah Parseh, Bendengan, Masaran-Leppek, Rabeh Desa Sumedangan dan Dusun Utara, Selatan, Jarbuddih, Pakong Desa Durbuk di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec. Pademawu pamekasan sebanyak 338 orang dan 346 orang.
3.5.1 Sampel
Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2002 : 79). Pada penelitian ini sampel yang digunakan yaitu sebagian masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Desa Durbuk dan Desa Sumendangan di Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan.


3.5.3 Besar Sampel
Besar sampel merupakan banyaknya anggota populasi yang akan dijadikan sampel (Nursalam, 2003 : 96). Untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 1.000 dapat menggunakan formula yang lebih sederhana lagi sebagai berikut :
n =
Keterangan :
N : Besar populasi
n : Besar sampel
d : Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan ( d=0,1)
Besar sampel penelitian adalah :
n =
=
=
= 87.24
Jadi dalam penelitian ini besar sampelnya adalah 87.24 dibulatkan menjadi 87 responden.



3.5.3.1 Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dari sampel yang akan diteliti, yaitu :
1. Warga Desa Sumedangan atau Desa Durbuk
1) Berusia 20 – 24 tahun
2) Latar belakang pendidikan minimal SD
3) Bersedia diteliti
3.5.3.2 Kriteria Eksklusi
Kriteria eksklusi adlah kriteria diluar sampel yang tidak diteliti, yaitu :
1) Bukan warga Desa Sumedangan atau Desa Durbuk
2) Berusia < atau > dari 20 – 24 tahun
3) Tidak pernah mengikuti pendidikan sekolah formal
4) Tidak bersedia diteliti
3.5.4 Sampling
Tehnik sampling adalah suatu proses menyeleksi porsi populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam dan Pariani, 2001 : 66). Dalam penelitian ini cara pengambilan sampel menggunakan tehnik disproportional stratifed random sampling, dimana pengambilan subyek diambil dari setiap strata yang kurang proportional. Tehnik ini digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proportional caranya adalah tokoh agama dan perangkat desa semuanya dijadikan sampel sedangkan warga masyarakat dihitung sesuai random. (Sugiono, 2005 : 34)

3.6 Pengumpulan dan Analisa Data
3.6.1 Pengumpulan Data
.Pengumpulan data dilakukan sejak mendapat surat ijin dari kepala Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan. Setelah itu peneliti mengadakan pendekatan dengan responden untuk mendapatkan persetujuan menjadi responden sebagai objek penelitian.
3.6.2 Instrumen Penelitian
Alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup (Closed-ended) jenis multiple choice yaitu pertanyaan yang menyediakan alternatif jawaban dan responden hanya memilih salah satu diantaranya sesuai dengan pendapatnya (Notoatmodjo,2003, 125).
3.6.3 Tempat dan Waktu
1) Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Sopa’ah Kec.Pademawu Pamekasan pada saat ada pertemuan masyarakat di Balai Desa Durbuk dan Desa Sumendangan.
2) Waktu Penelitian
Jadwal penelitian untuk proposal terhitung sejak bulan Oktober sampai dengan Bulan Maret 2008.
3.6.4 Analisa data
3.6.4.1 Editing
Editing adalah mengoreksi ulang jawaban responden terhadap angket apakah sudah susuai dengan petunjuk atau tidak dan mengoreksi kelengkapan angket.
3.6.4.2 Coding
Coding adalah tindakan bagaimana mengkode responden, pertanyaan-pertanyaan dan segala hal yang dianggap perlu.
3.6.4.3 Scoring
Scoring adalah menentukan skor atau nilai untuk tiap item pertanyaan dan menentukan nilai terendah dan tertinggi.
3.6.4.4 Tabulating
Tabulating adalah mentabulasi data yang diperoleh sesuai dengan item pertanyaan.
Metode yang digunakan dalam pengolahan sikap adalah skala model likert dimana setiap pertanyaan responden akan diberi skor sesuai dengan skala kategori jawaban yang diberikan.
1) Untuk pertanyaan positif (favorable) jawaban STS=1, TS=2, RR=3, S=4, SS=5.
2) Untuk pertanyaan negatif (unfavorable) jawaban STS=5, TS=4, RR=3, S=2, SS=1.
Keterangan:
STS = Sangat tidak setuju
TS = Tidak setuju
RR = Ragu-ragu
S = Setuju
ST = Sangat setuju
Suatu cara untuk memberi interpretasi terhadap skor dalam skala rating yang dijumlahkan adalah dengan membandingkan skor tersebut dengan harga rata- rata atau mean skor kelompok dimana responden itu termasuk. Perbandingan relatif ini akan menghasilkan interpretasi skor individual sebagai lebih atau kurang favorable dibandingkan dengan rata-rata kelompoknya. Agar perbandingan itu menjadi punya arti, haruslah dinyatakan dalam satuan deviasi standarkelompok itu sendiri yang berarti kita harus mengubah skor individual menjadi skor standar. Salah satu skor standar yang biasa digunakan dalam skala model likert adalah skor-T, yaitu;
Rumus T=50+10
Keterangan: X= Skor individual yang diperoleh dari skor total
X= Mean skor kelompok
S= Deviasi skor kelompok
Menentukan kategori berdasarkan nilai-T didapatkan jika
1) Nilai T > Med T, berarti subyek mempunyai sikap yang relatif favorable
2) Nilai T < Med T , berarti subyek mempunyai sikap yang relatif lebih unfavorable
Setelah mendapatkan hasil dari responden berupa sikap negatif (unfavorable) dan sikap positif (favorable) jumlahkan dan bandingkan dengan jumlah seluruh responden lalu dikalikan 100% dan hasilnya berupa prosentase.
Pada setiap pernyataan jika dijumlahkan untuk setiap responden yang menjawab sangat setuju untuk pertanyaan positif dan menjawab tidak setuju untuk pertanyaan negatif kemudiaan dibandingkan dengan seluruh responden yang ada.
Hasil data dalam bentuk prosentase dan diinterpretasikan dengan menggunakan skala:
1) 100% : seluruhnya
2) 76% - 99% : hampir seluruhnya
3) 51% - 75% : sebagian besar
4) 50% : setengahnya
5) 25% - 49% : hampir setengahnya
6) 1% - 24% : sebagian kecil
7) 0% : tidak satupun (Arikuntu, 1998)
Instrumen kedua untuk mengukur masyarakat dalam melaksanakan kegiatan operasional Desa Siaga. Kuisioner terdiri dari 15 pertanyaan Menggunakan chek list dan nanti hasilnya berupa data ordinal yang memiliki kriteria baik, cukup dan kurang. Adapun kriteria yang dimaksud adalah:
1) 75% - 100% : Baik
2) 35% - 74% : Cukup
3) < 35% : Kurang.
Setelah itu data dimasukkan ke tabel distribusi frekuensi untuk masing-masing variabel, kemudian dilanjutkan tabulasi silang dari variabel independen ke variabel dependen. Untuk menguji hipotesis atau untuk mencari perbedaan sikap responden dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji t dengan tingkat signifikasi 0,05 melalui piranti Windows SPSS.


3.7 Etika Penelitian
Penelitian dilaksanakan setelah mendapatkan ijin Kepala Puskesmas Sopa’ah. Kemudian kuesioner dibagikan kepada responden dengan memperhatikan masalah etika penelitian, antara lain sebagai berikut :
3.7.1 Lembar Persetujuan menjadi Responden (Informed Concent)
Peneliti meminta persetujuan subjek untuk menjadi responden. Bila subjek bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan, bila subjek menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan menghormati hak-hak klien.
3.7.2 Tanpa Nama (Anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, peneliti tidak akan mencantumkan nama subjek pada lembar kuesioner. Pada lembar pengumpulan data peneliti hanya menuliskan atau memberi kode-kode tertentu pada masing-masing lembaran
3.7.3 Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi yang telah dikumpulkan dari subjek dijaga kerahasiaannya oleh peneliti. Dan hanya disoalkan atau dilaporkan pada beberapa kelompok yang berhubungan dengan penelitian.

3.8 Keterbatasan
Keterbatasan adalah hambatan atau kelemahan dalam penelitian (Nursalam, 2001 : 173 ).
3.8.1 Pengumpulan data dirancang sendiri oleh peneliti dengan menggunakan lembar kuesioner memungkinkan jawaban lebih banyak dipengaruhi oleh sikap dan harapan-harapan pribadi yang bersifat subjektif sehingga hasilnya kurang representatif.
3.8.2 Waktu penelitian terbatas, sehingga data yang dikumpulkan hanya dari hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden, oleh karena itu masih diperlukan wawancara.
3.8.3 Peneliti masih dalam tahap belajar dan belum memiliki banyak pengalaman sehingga hasil penelitian masih perlu banyak perbaikan.
3.8.4 Terbatasnya literatur untuk dijadikan acuan oleh peneliti.













STUDY KOMPARASI SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAAN DESA SIAGA (DI DESA SUMEDANGAN
DAN DURBUK) WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOPA’AH
KEC. PADEMAWU PAMEKASAN

PROPOSAL




OLEH




Oleh :
AISYIAH ULFA
NIM : 05.005


PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN
DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN
2008


KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji dan syukur kepada sumber ilmu pengetahuan, sumber segala kebenaran, penabur cahaya ilham, pilar nalar kebenaran dan kebaikan yang terindah, Allah SWT, atas taufik dan hidayah-Nya sehingga proposal yang berjudul “Study komparasi sikap masyarakat terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan” dapat diselesaikan.
Dalam penyusunan, penulis banyak mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatanini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Direktur Akademi Keperawatan Pamekasan Ibu Tumiatin, SST, SPd, MM. atas kesempatan yang telah diberikan kepada peneliti untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan DIII Keperawatan.
2. Kepala Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan beserta seluruh staff atas segala fasilitas dan izin untuk mengadakan penelitian ini.
3. Terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya saya ucapkan kepada Bapak Abd. Latif, SST selaku pembimbing I yang penuh perhatian dan kesabaran meberikan bimbingan, motivasi serta saran kepada peneliti.
4. Ayah dan Ibu sebagai pembimbing utama hidup peneliti dan adik-adik yang telah memberikan dorongan dan bantuan yang tak terhingga baik berupa moril maupun materiil serta luapan kasih sayangnya sampai saat ini.
5. Sahabat dan saudara seperjuangan PURI atas dorongan dan diskusi ilmiah demi terselesainya proposal ini.
6. Rekan mahasiswa angkatan VIII Akademi Keperawatan Pamekasan dan seluruh pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan proposal ini yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu.
Tiada kata dan penghargaan yang pantas saya persembahkan kecuali saya memohon kepada Allah SWT semoga amal mereka diterima oleh-Nya sebagai amal kebaikan dan ibadah yang berpahala.
Semoga proposal ini dapat bermanfaat, tidak hanya sebagai menara gading yang hanya mampu diartikan pancaran kilaunya sebagai nuansa estetika. Dengan penuh kesadaran diri dan dengan segala kerendahan hati peneliti menyadari bahwa hanya Allah-lah yang memiliki segala kesempurnaan, sehingga tentu masih banyak kekurangan karena keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki peneliti dan faktor lainnya, oleh karenanya masukan dan kritik yang sifatnya membangun sangat diperlukan untuk kesempurnaan dalam penelitian ini.

Pamekasan, April 2008


Peneliti













STUDY KOMPARASI SIKAP MASYARAKAT TERHADAP PELAKSANAAN DESA SIAGA (DI DESA SUMEDANGAN
DAN DURBUK) WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOPA’AH
KEC. PADEMAWU PAMEKASAN

PROPOSAL

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Keperawatan
Pada Program Pendidikan DIII Keperawatan
Pada Akademi Keperawatan Pamekasan
















Oleh :
AISYIAH ULFA
NIM : 05.005




PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN
DINAS KESEHATAN
AKADEMI KEPERAWATAN
2008

LEMBAR PERNYATAAN


Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Aisyiah Ulfa
NIM : 05.005
Tempat, tanggal lahir : Sumenep, 11 Desember 1986
Institusi : Akper Pamekasan
Menyatakan bahwa proposal yang berjudul “Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga (Di Desa Sumedangan Dan Desa Durbuk) Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec. Pademawu Pamekasan” adalah bukan karya tulis ilmiah orang lain baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah disebutkan sumbernya.

Demikian pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, kami bersedia mendapatkan sangsi akademis.

Pamekasan, April 2008
Yang menyatakan

Aisyiah Ulfa
NIM. 05.005

Mengetahui,
Pembimbing I Pembimbing II


Abd. Latif, SST
NIP 140 223 047
Lampiran 1
Formulir persetujuan menjadi responden
“Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga (Di Desa Sumedangan Dan Desa Durbuk) Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan”

Oleh

Aisyiah Ulfa
NIM 05.005

Peneliti adalah mahasiswa Akademi Keperawatan Pamekasan akan melakukan penelitian yang berjudul “Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga (Di Desa Sumedangan Dan Desa Durbuk) Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan”. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir pendidikan DIII Keperawatan pada Akademi Keperawatan Pamekasan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan sikap masyarakat terhadap pelaksanaan Desa Siaga di Desa Sumedangan dan Desa Durbuk Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai masukan dalam pelaksanaan Desa Siaga sehimgga dalam pelaksanaannya Desa Siaga benar-benar dapat terlaksana secara optimal.
Peneliti berharap tanggapan saudara sesuai dengan pendapat saudara sendiri. Partisipasi saudara dalam penelitian ini bersifat bebas tanpa ada paksaan atau sanksi apapun. Jika saudara bersedia menjadi peserta penelitian silahkan menandatangani kolom persetujuan di bawah ini. Tiada kata yang dapat peneliti haturkan selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas partisipasi saudara dalam penelitian ini.






Lampiran 2
LEMBAR PENGUMPULAN DATA

Petunjuk Pengisian :
1. Isilah jawaban pada tempat yang telah disediakan
2. Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda (√) pada kolom yang telah disediakan
A. DATA UMUM
1. USIA
( ) 20 tahun
( ) 21 tahun
( ) 22 tahun
( ) 23 tahun
( ) 24 tahun
2. JENIS KELAMIN
( ) Laki-laki ( ) Perempuan
3. PENDIDIKAN
( ) Tidak sekolah
( ) SD
( ) SMP
( ) SMA
( ) Akademi/Perguruan Tinggi


4. PEKERJAAN
( ) Tidak bekerja ( ) Pedagang
( ) Tani ( ) PNS / Pensiunan
( ) Swasta ( ) TNI / Polri
5. Status sosial
( ) Warga
( ) Perangkat Desa
( ) Tokoh Agama
6. Saudara tinggal di daerah
( ) Desa Sumedangan
( ) Desa Durbuk












I. PELAKSANAAN DESA SIAGA DI DESA SUMEDANGAN

No. Responden :
Umur :………… Tahun
Jenis Kelamin : L / P
Status Sosial : Tokoh Agama / Perangkat Desa / Warga
Pendidikan : Tidak Sekolah / SD / SMP / SMA / Perguruan Tinggi
Petunjuk : Berilah tanda “√” pada kotak jawaban yang anda pilih

NO PERNYATAAN
YA TIDAK
A. INDIKATOR MASUKAN (INPUT)
1
Ada forum masyarakat Desa di Desa Sumedangan
2
Ada sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi desa yang tidak punya Askes Puskesmas/Pustu : ada poskesdes dan bangunannya)

3 Ada UKBM (Upaya kesehatan Berbasis masyarakat)

4 Ada tenaga kesehatan

5 Ada dana untuk kesehatan masyarakat Desa

B. INDIKATOR PROSES (PROCESS)
6 Ada frekuwensi pertemua forum masyarakat desa

7 Ada pelayanan kesehatan atau poskesdes yang berfungsi

8
Ada UKBM (Upaya kesehatan Berbasis masyarakat)
yang berfungsi
9 Ada sistem kesiap siagaan dan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana yang berfungsi

10 Ada Sistem survellans berbasis masyarakat yang berfungsi

11 Ada kegiatan promosi kesehatan untuk KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)

C. INDIKATOR KELUARA (OUT PUT)

12 Adanya cakupan pelayanan dasar kesehatan atau poskesdes

13 Adanya cakupan pelayanan UKBM (Upaya kesehatan Berbasis masyarakat) yang lain

14 Adanya pelaporan tentang jumlah kasus kegawat daruratan dan kejadian yang luar biasa

15 Adanya cakupan rumah tangga yang mendapat promosi kesehatan untuk KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)


























II. PELAKSANAAN DESA SIAGA DI DESA DURBUK

No. Responden :
Umur :………… Tahun
Jenis Kelamin : L / P
Status Sosial : Tokoh Agama / Perangkat Desa / Warga
Pendidikan : Tidak Sekolah / SD / SMP / SMA / Perguruan Tinggi
Petunjuk : Berilah tanda “√” pada kotak jawaban yang anda pilih

NO PERNYATAAN
YA TIDAK
A.INDIKATOR MASUKAN (INPUT)

1
Ada forum masyarakat Desa di Desa Durbuk
2
Ada sarana pelayanan kesehatan dasar (bagi desa yang tidak punya Askes Puskesmas/Pustu : ada poskesdes dan bangunannya)

3 Ada UKBM (Upaya kesehatan Berbasis masyarakat)

4 Ada tenaga kesehatan

5 Ada dana untuk kesehatan masyarakat Desa

B.INDIKATOR PROSES (PROCESS)

6 Ada frekuwensi pertemua forum masyarakat desa

7 Ada pelayanan kesehatan atau poskesdes yang berfungsi

8
Ada UKBM (Upaya kesehatan Berbasis masyarakat)
yang berfungsi
9 Ada sistem kesiap siagaan dan penanggulangan kegawat daruratan dan bencana yang berfungsi

10 Ada Sistem survellans berbasis masyarakat yang berfungsi

11 Ada kegiatan promosi kesehatan untuk KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)

C. INDIKATOR KELUARA (OUT PUT)

12 Adanya cakupan pelayanan dasar kesehatan atau poskesdes

13 Adanya cakupan pelayanan UKBM (Upaya kesehatan Berbasis masyarakat) yang lain

14 Adanya pelaporan tentang jumlah kasus kegawat daruratan dan kejadian yang luar biasa

15 Adanya cakupan rumah tangga yang mendapat promosi kesehatan untuk KADARZI (Keluarga Sadar Gizi) dan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat)
















III. SIKAP
SKOR
NO PERNYATAAN SS S R TS STS KET
1. Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah serta mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawat daruratan secara mandiri.

2 Pelaksanaan desa SIAGA dapat mencegah kejadian kematian ibu dan bayi saat melahirkan

3 Tujuan Desa Siaga adalah terwujudnya masyarakat yang sehat, peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di desanya.

4 Yang termasuk sasaran dari pelaksanaan Desa Siaga adalah semua masyarakat yang ada di desa tersebut

5 Dalam pelaksanaan desa SIAGA harus memenuhi beberapa kriteria, salah satunya adalah memiliki lingkungan yang sehat, misalnya dalam setiap rumah harus ada tempat sampah

6 Resiko tinggi kehamilan yang diketahui secara dini membantu ibu dalam mempersiapkan kelahiran bayinya

7 Pengadaan tabungan ibu bersalin (TABULIN) dan (DASOLIN) dana sosial ibu bersalin membantu keluarga atau ibu hamil bertambah stress

8 Menurut saya Desa Siaga tidak perlu melibatkan peran serta seluruh masyarakat karena sudah ada kader yang diberi tanggung jawab untuk mensukseskan Desa Siaga.



9 Menurut saya ada atau tidak adanya Unit kegiatan berbasis masyarakat tidak akan mempengaruhi pelaksanaan Desa Siaga

10 Menurut saya Desa Siaga merupakan sarana mensukseskan Indonesia Sehat 2010

11 Keoptimalan pelaksanaan desa SIAGA adalah adanya kerjasama antara tenaga kesehatan dan warga masyarakat

12 Partisipasi Tokoh Agama, Perangkat Desa dan Anggota Masyarakat merupakan kunci keberhasilan pelaksanaan desa SIAGA

13 Dengan dilaksanakannya desa SIAGA diharapkan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat

14 Pengadaan donor darah membuat masyarakat mudah mendapatkan darah jika terjadi kegawat daruratan di desa

15 Agar pelaksanaan desa SIAGA optimal maka desa tersebut harus memiliki lembaga kemasyarakatan yang aktif dan sarana pelayanan kesehatan dasar desa, misalnya (PUSTU) Puskesmas Pembantu / (POLINDES) pos bersalin desa dan saya akan ikut aktif dalam program tersebut

Keterangan :

SS : Sangat Setuju
S : Setuju
R : Ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat Tidak Setuju



DAFTAR ISI



Halaman

HALAMAN COVER……………………………………………………
COVER DALAM………………………………………………………. i
LEMBAR PERNYATAAN……………………………………………. ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………. iii
DAFTAR ISI…………………………………………………………… iv
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………… v
DAFTAR TABEL……………………………………………………… vi
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………… vii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belekang Masalah………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………….. 4
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………………… 5
1.3.1 Tujuan Umum……………………………………………………….. 5
1.3.2 Tujuan Khusus………………………………………………………. 5
1.4 Manfaat Penelitian……………………………………………………. 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Sikap…………………………………………………… 7
2.1.1 Pengertian Sikap……………………………………………………. 7
2.1.2 Tingkatan Sikap……………………………………………………… 8
2.1.3 Pembentukan Sikap…………………………………………………. 9
2.1.4 Struktur Sikap………………………………………………………. 13
2.1.5 Karakteristik Sikap………………………………………………….. 15
2.1.6 Ciri-Ciri Sikap……………………………………………………… 17
2.1.7 Fungsi Sikap………………………………………………………… 18
2.1.8 Persuasi Dan Pengubahan Sikap……………………………………. 18
2.1.9 Pengukuran Sikap…………………………………………………... 19
2.2 Konsep Dasar Masyarakat…………………………………………….. 21
2.2.1 Pengertian Masyarakat……………………………………………… 21
2.2.2 Ciri-Ciri Masyarakat……………………………………………… 22
2.2.3 Tipe-Tipe Masyarakat……………………………………………… 23
2.2.4 Ciri-Ciri Masyarakat Indonesia……………………………………. 25
2.2.5 Ciri-Ciri Masyarakat Sehat………………………………………… 27
2.2.6 Indikator Ciri Masyarakat Sehat……………………………………... 27
2.2.7 Masalah-Masalah Kesehatan Dalam Masyarakat Indonesia…………. 28
2.3 Konsep Dasar Desa Siaga……………………………………………… 29
2.3.1 Pengertian Desa Siaga……………………………………………….. 29
2.3.2 Tujuan Desa Siaga…………………………………………………… 29
2.3.3 Sasaran Desa Siaga………………………………………………… 30
2.3.4 Kriteria Desa Siaga………………………………………………… 31
2.3.5 Tahapan Desa Siaga………………………………………………. 32
2.3.6 Kegiatan Dalam Desa Siaga……………………………………… 34
2.3.7 Langkah-Langkah Dalam Pendekatan Pengembangan Desa Siaga… 34
2.3.8 Indikator Keberhasilan Desa Siaga…………………………………... 40
2.4 Kerangka Konseptual………………………………………………….. 42
2.5 Hipotesis Penelitian……………………………………………………. 43

BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian……………………………………………………… 44
3.2 Kerangka Kerja………………………………………………………… 45
3.3 Identivikasi Variabel………………………………………………….. 46
3.3.1 Pengertian Variabel…………………………………………………. 46
3.3.2 Variabel Independen………………………………………………… 46
3.3.3 Variabel Dependen…………………………………………………... 46
3.4 Definisi Operasional…………………………………………………… 46
3.5 Desain Sampling………………………………………………………. 48
3.5.1 Populasi…………………………………………………………….. 48
3.5.2 Sampel……………………………………………………………… 48
3.5.3 Besar Sampel………………………………………………………... 49
3.5.3.1 Kriteria Inklusi…………………………………………………….. 50
3.5.3.2 Kriteria Eksklusi…………………………………………………… 50
3.6 Pengumpulan Dan Analisis Data……………………………………. 51
3.6.1 Pengumpulan Data…………………………………………………... 51
3.6.2 Instrumen Penelitian………………………………………………… 51
3.6.3 Tempat Dan Waktu………………………………………………… 51
3.6.4 Analisa Data………………………………………………………….. 51
3.6.4.1 Editing…………………………………………………………….. 51
3.6.4.2 Coding…………………………………………………………….. 52
3.6.4.3 Scoring……………………………………………………………. 52
3.6.4.4 Tabulating…………………………………………………………. 52
3.7 Etika Penelitian……………………………………………………….. 55
3.7.1 Lembar Persetujuan Menjadi Responden………………………… 55
3.7.2 Tanpa Nama………………………………………………………….. 55
3.7.3 Kerahasiaan…………………………………………………………. 55
3.8 Keterbatasan…………………………………………………………... 55

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN



DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual…………………………………….. 42
Gambar 3.2 Kerangka Kerja…………………………………………… 45


























DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional……………………………………………. 46


























DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 2 Kuisioner “Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga (Di Desa Sumedangan Dan Desa Durbuk) Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan”
Lampiran 3 Lembar Konsultasi
Lampiran 4 Jadual Penelitian















Lampiran 4
JADUAL PENYUSUNAN PROPOSAL

No Kegunaan Bulan ke
10 11 12 1 2 3 4
1 Pengajuan Judul X
2 Pengajuan BAB 1 X
3 Pengajuan BAB 2 X
4 Pengajuan BAB 3 X
5 Penyusunan instrumen X














Lampiran 3
LEMBAR KONSULTASI
Nama Mahasiswa : Aisyiah Ulfa
NIM : 05.005
Nama Pembimbing : Abd. Latif, SST.
Judul Proposal :“Study Komparasi Sikap Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Desa Siaga (Di Desa Sumedangan Dan Desa Durbuk) Wilayah Kerja Puskesmas Sopa’ah Kec Pademawu Pamekasan”

NO TANGGAL URAIAN KET PARAF
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
15 Oktober 2007
17 Oktober 2007
12 Desember 2007
17 Desember 2007
28 desember 2007
5 Februari 2008
7 Februari 2008
11 Maret 2008
13 Maret 2008
14 Maret 2008
18 Maret 2008
1 april 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar